Hukum Terorisme dan Bom Bunuh Diri: “Pelakunya Masuk Neraka!”

Posted on July 17, 2008. Filed under: Siyasah-Politik |

Hukum Terorisme dan Bom Bunuh Diri: “Pelakunya Masuk Neraka!”

Syaikh Ibnu Utsaimin

Pertanyaan:
Penjelasan syaikh Utsaimin tentang terorisme, bom bunuh diri dan hal-hal yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Jawaban:

Syaikh Utsaimin Rahimahullah berkata dalam menjelaskan beberapa keuntungan dari hadist Suhaib yang terdapat pada Riyadus Shalihin (1/165-166), yaitu: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Di zaman sebelum kamu ada seorang raja yang memiliki seorang ahli sihir. Ketika ahli sihir itu sudah tua ia berkata kepada raja: “Kini aku telah tua oleh karenanya datangkanlah kepadaku seorang budak untuk aku ajari ilmu sihir…” (Riyaadhus-Saaliheen, no. 30) (Hadist lengkap dilampirkan di bawah, penj.)

Dibolehkan buat seorang muslim untuk menghadapi bahaya demi kemaslahatan kaum muslimin, karena anak itu menunjukkan kepada raja cara agar dia bisa membunuhnya, dengan menganjurkan untuk mengambil anak panah dari tempatnya dan seterusnya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Karena ini adalah Jihad di jalan Allah, yang akan menyebabkan banyak manusia untuk beriman kepada Allah, dan pemuda itu tidak mengalami kerugian apapun, karena toh dia akan mati cepat atau lambat.”

Adapun mengenai kegiatan bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian orang, dengan mengikatkan bahan peledak ditubuhnya, berjalan mendekati orang-orang kafir dan meledakkan dirinya di tempat mereka, maka ini adalah suatu bentuk bunuh diri — semoga Allah melindungi kita. Barangsiapa melakukan perbuatan bunuh diri maka dia akan diazab di neraka dan tinggal selamanya di situ, seperti sabda Rasulullah :
“…dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi (pedang), maka dia akan terus menikam perutnya dengan pedang tersebut di neraka untuk selamanya.” (HR. Bukhari)

Karena orang ini telah membunuh dirinya dan tidak memberikan kemaslahatan buat Islam. Maka jika ia membunuh dirinya bersama dengan 10, 100 atau 200 orang lain, Islam tidak akan mendapatkan keuntungan dari perbuatannya tersebut, karena orang-orang tidak akan menerima/masuk islam. Ini berlawanan dengan kisah pemuda yang terdapat pada hadist diatas. Sebaliknya, perbuatan ini akan semakin menimbulkan perlawanan dari pihak musuh dan menimbulkan rasa dendam dan benci di hati mereka, sehingga mereka akan berusaha untuk menghancurkan kaum muslimin.

Ini adalah seperti apa-apa yang dapat kita lihat dari perbuatan orang-orang Yahudi terhadap rakyat Palestina. Ketika seorang Palestina melakukan bom bunuh diri dan membunuh 6 atau 7 orang Yahudi, kemudian sebagai balasannya orang-orang Yahudi tersebut membunuh 60 atau lebih orang-orang Palestina. Jadi bom bunuh diri ini tidak memberikan keuntungan buat kaum Muslimin dan tidak pula buat pelakunya.

Oleh sebab itu kami berpandangan bahwasanya perbuatan orang-orang yang melakukan bom bunuh diri adalah tindakan bunuh diri yang tercela, dan ini akan menyebabkan mereka masuk ke dalam neraka jahanam — semoga Allah melindungi kita — dan orang ini tidak mati syahid. Tetapi jika seseorang telah melakukan ini karena salah paham, dia berpikir bahwa bom bunuh diri itu adalah dibolehkan, maka kami berharap bahwa dia akan diampuni dosanya, dengan catatan bahwa orang tersebut tetap tidak dianggap mati syahid, karena dia tidak menempuh jalan orang yang syahid. Tetapi barangsiapa melakukan ijtihad maka apabila salah akan menerima satu pahala (jika dia adalah seorang yang memenuhi syarat untuk berijtihad).


Lampiran hadist lengkap (penj.)
Di zaman sebelum kamu ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir. Ketika ahli sihir tersebut telah tua, dia berkata kepada raja:”Usiaku telah lanjut, kirimkanlah kepadaku seorang pemuda untuk aku ajarkan kepadanya ilmu sihir.” Maka raja mengirimkan kepadanya seorang pemuda untuk diajarkan ilmu sihir. Di perjalanan (rutin) nya menuju kepada ahli sihir itu, terdapat seorang rahib. Maka pemuda itu duduk di sana bersama rahib tersebut, mendengarkan ajaran-ajarannya dan merasa puas terhadapnya. Setiap kali pemuda itu mendatangi ahli sihir, dia akan melalui rahib dan duduk bersamanya, dan ketika sampai ke tempat ahli sihir, ahli sihir itu memukul pemuda itu (karena terlambat). Lalu pemuda itu mengadukan hal tersebut kepada rahib. Rahib berkata kepadanya:”Apabila kamu takut kepada ahli sihir, maka katakanlah kepadanya:’Keluargaku yang menyebabkan aku terlambat’. Apabila kamu takut kepada keluargamu, maka katakanlah kepada mereka:’Ahli sihir menyebabkan aku pulang terlambat.” Kemudian pemuda tersebut melaksanakan seperti yang diperintahkan (sampai waktu tertentu).

Pada suatu hari pemuda itu bertemu dengan seekor binatang besar yang menghalangi perjalanan orang ramai. Pemuda itu berkata:”Pada hari ini, aku akan mengetahui apakah ahli sihir yang lebih baik ajarannya ataukah rahib.” Kemudian ia mengambil sebuah batu dan berkata: “Ya Allah! jika perbuatan rahib adalah lebih Engkau sukai dari perbuatan ahli sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang bisa melintas (jalan).” Kemudian ia melempar binatang itu dengan batu, dan binatang itu terbunuh sehingga orang-orang bisa melewati (jalan). (Kemudian) pemuda itu datang menemui rahib dan mengabarkan kepadanya tentang kejadian itu. Rahib berkata:”Hai anakku, hari ini kau adalah lebih baik/utama dari aku; kau telah mencapai apa yang aku lihat! dan kau akan mendapat ujian. Dan apabila kau mendapat ujian, jangan kau beritahukan hal itu kepadaku.”

Pemuda itu (dengan kebesaran Allah) mulai mengobati orang-orang yang buta sejak lahir, yang berpenyakit kusta/lepra dan yang menderita penyakit lainnya. Seorang pembesar kerajaan yang buta mendengar tentang pemuda itu. Dia datang membawa hadiah untuk pemuda itu dan berkata:”Semua hadiah ini adalah untukmu tetapi dengan syarat kau harus menyembuhkanku.” Pemuda itu berkata:”Bukan aku yang menyembuhkan orang. Tetapi Allah-lah yang menyembuhkan (mereka). Jadi jika kau beriman/percaya kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya, dan Dia akan menyembuhkanmu.” Ia (pembesar istana itu) kemudian beriman kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya. Belakangan, pembesar istana itu datang menemui raja dan duduk di tempat biasanya dia duduk. Raja bertanya kepadanya:”Siapa yang telah menyembuhkan penglihatannmu?” Pembesar kerajaan itu menjawab: “Tuhanku (Allah)!” Raja berkata:”Apakah kamu mempunyai tuhan selain aku?” Pembesar istana itu menjawab:”Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah!” Raja kemudian menangkap pembesar itu dan terus menyiksanya sampai dia memberitahukan tentang pemuda itu.

Kemudian pemuda itu dibawa (menemui raja). Raja berkata kepada pemuda itu:”Hai pemuda! Apakah ilmu sihirmu telah mencapai tingkat dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir, orang berpenyakit kusta/lepra dan orang-orang yang menderita penyakit lainnya?” (Pemuda itu) menjawab:”Saya tidak menyembuhkan orang; Allah-lah yang menyembuhkan.” Kemudian raja menangkapnya dan terus menyiksanya sampai di memberitahukan tentang rahib itu.

Dan rahib tersebut dibawa (ke tempat raja), dan dikatakan kepadanya:”Keluarlah dari agamamu!” Rahib itu menolak untuk melakukannya. Kemudian raja memerintahkan untuk mengambil gergaji, meletakkan di tengah kepalanya dan rahib itu digergaji sampai terbelah dua. Kemudian pembesar istana itu dibawa, dan dikatakan kepadanya:”Keluarlah dari agamamu!” Pembesar istana itu menolak. Kemudian gergaji diletakkan di tengah kepalanya dan dia digergaji sampai terbelah dua.

Kemudian pemuda itu dibawa dan dikatakan kepadanya:”Keluarlah dari agamamu!” Pemuda itu menolak untuk melakukannya. Kemudian raja memerintahkan kepada beberapa pengawalnya untuk membawa pemuda itu ke sebuah gunung yang begini dan begini dan berkata:”Kemudian dakilah gunung itu bersamanya sampai kau mencapai puncaknya, dan lihatlah jika dia meninggalkan agamanya (kafir, itu bagus); jika tidak lemparkan dia dari puncak gunung.” Mereka membawanya mendaki puncak sebuah gunung dan pemuda itu berkata:”Ya Allah! Selamatkan aku dari mereka dengan sesuatu yang Kau inginkan” Kemudian gunung itu bergetar dan mereka semuanya jatuh (dan mati kecuali pemuda itu), dan (pemuda itu) datang menemui raja. Raja bertanya kepadanya:”Apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang menemanimu?” Pemuda itu berkata:”Allah (‘Azza Wajalla) telah menghindarkan mereka dari aku.” Raja kemudian memerintahkan beberapa orang pengawalnya untuk membawa pemuda itu naik sebuah perahu ke tengah laut dan berkata:”Kemudian jika dia kafir (dari agamanya, itu bagus), jika tidak lemparkan dia ke laut.” Kemudian mereka membawa pemuda itu, dan pemuda itu berkata:”Ya Allah! Selamatkan aku dari mereka dengan sesuatu yang Kau inginkan!” Kemudian perahu itu terbalik dan (semua pengawal raja) tenggelam (kecuali pemuda itu). Pemuda itu kemudian datang berjalan menemui raja. Raja berkata:”Apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang menemanimu?” Pemuda itu berkata:”Allah (‘Azza Wajalla) telah menyelamatkan aku dari mereka” Dan kemudian pemuda itu berkata kepada raja: “Kau tidak akan dapat membunuhku sampai kau mengikuti apa yang aku perintahkan!” Raja berkata:”Apa itu (perintahmu)?” Pemuda itu berkata:”Kumpulkan orang-orang (rakyat) di sebuah tanah tinggi, dan ikatlah aku pada sebuah batang pohon; kemudian ambillah panahku dari tempatnya, letakkan pada busurnya, dan katakanlah:’Dengan nama Allah, Tuhan dari pemuda ini’ – dan panahlah aku. Jika kamu lakukan itu, maka kau akan dapat membunuhku.” Kemudian raja mengumpulkan orang-orang di sebuah tanah tinggi, dan mengikat pemuda itu pada sebuah batang pohon, mengambil panah dari tempat panahnya, meletakkan pada busurnya, dan berkata:”Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini”, dan melepaskan anak panah itu. Panah itu mengenai pelipis (pemuda itu) dan (setelah itu pemuda itu) meletakkan tangannya di pelipisnya dan mati.

Orang-orang (terkejut dan) berkata:”Kami telah beriman kepada Tuhan pemuda itu!”

Raja datang dan dikatakan kepadanya:”Itulah sesuatu yang engkau takutkan. Demi Allah! Itulah sesuatu yang engkau takutkan telah terjadi padamu. Orang-orang telah beriman (kepada Allah).” Kemudian raja memerintahkan untuk menggali parit-parit besar pada jalan-jalan masuk, dan untuk menyalakan api pada parit-parit tersebut. Dan raja itu memerintahkan barangsiapa tidak mau keluar agamanya (kafir) akan dilemparkan ke dalam parit-parit; atau dia berkata: bakarlah (di sana). Dan hal itu dilakukan sampai tiba giliran seorang wanita bersama bayinya. Wanita itu (saat pertama) takut untuk dilemparkan (ke dalam api), tetapi bayinya berkata kepadanya (sesuatu yang aneh buat bayi untuk berbicara):”Hai ibu! bersabarlah (sabarlah terhadap cobaan berat ini!), sesunggunya engkau berada dijalan yang benar.”

Rujukan:
http://www.spubs.com/sps/ (Article ID : MNJ140001). Hadist lengkap di terjemahkan dari: http://www.dar-al-alaba.net/Features/The_Boy_and_The_King.html

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: